Oleh: Kiki Marsenda, Leonardo Kurniawan, dan Selvia
Jakarta, Prodi Ikom, 23/2/2018 – Klub Journal is Me (JIM) dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia (UBM), Ancol, Jakarta Utara, menyelenggarakan kegiatan lokakarya bertema “Citizen Journalism in Digital Era, A Threat or An Opportunity?” pada 22 Februari 2018.
Di kegiatan kali ini, Klub JIM bekerja sama dengan Nulis yang telah sukses dalam membuat suatu program digital untuk mempermudah masyarakat dalam membagikan hasil karya tulisnya yang dapat dibaca oleh khalayak. Oleh karena itu, kali ini Nulis membagikan pemahaman terkait website-nya sendiri.
Sesuai dengan tema “Citizen Journalism in Digital Era”, apa yang disebut sebagai citizen journalism (CJ) bukan aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh wartawan, melainkan oleh warga biasa (bukan wartawan). Namun, setiap tulisan, foto, dan video yang diunggah harus memiliki nilai berita (news value).
Pada aplikasi Baca ‒induk perusahaan Nulis, red‒ terdapat sistem algoritma, di mana sistem tersebut akan menampilkan daftar berita yang diminati oleh pengguna. Tak melulu soal membaca berita, aplikasi ini juga mendukung pengguna untuk menulis beritanya sendiri.
Melalui aplikasi inilah akhirnya muncul peluang untuk saling bertukar informasi, karena kelebihan dari program CJ ini tak hanya cepat dalam mendapatkan informasi, namun juga dapat memperkaya sumber berita serta bebas biaya penayangan berita (free of interest).
“Keuntungan yang didapatkan seorang penulis di sini dapat dilihat dari semakin banyaknya yang membaca artikel Anda, semakin tinggi bayaran yang Anda dapatkan, namun balik lagi, bagaimana kualitas artikel tersebut,” ujar Anton Ryadie, narasumber Nulis.
Meski berpeluang besar, namun ada ancaman dari program CJ ini. Salah satunya adalah nihilnya fakta atas informasi yang disebar hingga mengakibatkan salah pemahaman dan salah pengambilan tindakan sehingga dapat terjadi demo massa, bahkan kerusuhan.
“Citizen journalism dapat disebut sebagai ancaman dan peluang. Jadi peluang kalau tahu caranya, karena satu sama lain saling melengkapi melalui 5W+1H+1V. Satu V itu ‘verifikasi’, yang berarti original,” sambung Anton.
Selain itu, untuk mengetahui apakah program CJ akan menjadi sebuah ancaman atau peluang, adalah tugas kita sebagai masyarakat yang menentukan. Maukah kita berpartisipasi dalam mengawasi setiap penyebaran informasi yang terjadi dan tidak langsung mempercayainya.
Jadi, di era digital ini, kita dapat secara langsung berpartisipasi dalam menyebarkan informasi. Unggahan informasi di media sosial pun sudah termasuk kegiatan jurnalis, ditambah lagi dengan adanya platform untuk menulis seperti Nulis.co.id. Sebab, melalui platform ini, masyarakat dapat menumbuhkan minat dan kemampuan dalam menulis.
Kembali lagi, sebuah informasi harus mengandung unsur nilai berita dan fakta di dalamnya. Kita, khususnya mahasiswa, harus lebih siaga agar informasi tanpa fakta dan nilai berita dapat berkurang di masyarakat, karena masih banyak masyarakat yang belum sadar akan hal ini. (KM/LK/S/TH)