Investasi saham kian naik daun sehingga menarik perhatian generasi milenial untuk ikut membeli salah satu instrumen pasar modal tersebut.
Namun, sebelum berinvestasi di pasar saham tentu kita harus memiliki bekal tersendiri sehingga bisa mendapatkan keuntungan maksimal.
Apalagi belakangan dikenal istilah “Investor Angkatan Corona”, atau orang yang baru berinvestasi di pasar saham sejak pandemi Covid-19.
Bagi yang tidak asing dengan hal investasi dan industri bisnis ini, beberapa waktu lalu ada satu emiten saham atau perusahaan yang mencari modal dari bursa saham baru yaitu GoTo.
GoTo menjadi topik hangat di media sosial serta tranding di Twitter, dimana emiten ini nampaknya cukup menarik minat investor dari kalangan yang cukup beragam.
Tentunya tidak mengherankan, karena GoTo dimiliki oleh GoTo Group yang merupakan perusahaan Indonesia hasil gabungan dari startup besar Gojek dan Tokopedia.
GoTo Group resmi didirikan dan mengumumkannya dirinya ke publik pada 17 Mei 2021 di Jakarta.
Bergabungnya kedua unircorn di Indonesia ini menghebohkan banyak pihak.
Karena apabila ditelaah dari sisi nilai saham perusahaan atau valuasi keduanya, GoTo memiliki nilai yang begitu tinggi setelah melakukan merger yang mencapai US$ 18 miliar.
Nilai tersebut didapatkan dari hasil putaran dana milik Gojek pada 2019 dan Tokopedia di awal 2020.
Dengan adanya hype akan investasi serta emiten-emiten yang memiliki peluang cemerlang, apa artinya ini jadi waktu yang paling tepat untuk kita berinvestasi saham?
Tentunya dalam ilmu ekonomi, investasi jadi pilihan yang bijak untuk dilaksanakan guna mengelola uang yang kita miliki.
Tapi tentu ada banyak pertimbangan yang wajib kita lihat dalam berinvestasi, apa lagi dalam hal investasi saham.
Ilustrasi 1
Dari tren saham GoTo yang masih menjadi perbincangan hangat di media sosial, pasti saja kita bisa menemukan investor FOMO (Fear Of Missing Out), atau dalam konteks ini ketakutan akan terlewatkan kesempatan yang ada.
Investor model ini pada umumnya membeli saham hanya berdasarkan tren atau ikut-ikutan saja tanpa melakukan analisa mendalam terlebih dahulu.
Fenomena FOMO bisa juga terjadi di pasar saham, forex, ataupun sejenisnya, dimana banyak orang mengejar saham saat terjadi rally atau kondisi harga saham naik tinggi, berharap kondisi harga akan kembali naik di waktu mendatang.
Padahal, banyak yang tidak sadar bahwa ketika kita akhirnya membeli di harga saham lebih tinggi, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada saham yang kita beli.
Dan salah satu kemungkinan terburuk adalah jatuhnya harga saham, jauh dari harga yang kita beli.